By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Megawati Institute: Temuan KPF adalah Alarm Demokrasi. Pemerintah Perlu Segera Melakukan Investigasi Independen dan Terbuka
Demokrasi yang Merawat
Djuari Sang Pejuang Pemikul Tandu Jenderal Soedirman yang Terlupakan: Jejak Setia Sang Pejuang dari Kediri
DPC GMNI Jakarta Timur: Kawasan Industri Pulogadung Diduga Jadi Penyumbang Polusi Udara di DKI Jakarta
Jauh di Mata, Dekat di Hati: Persaudaraan Ho Chi Minh dan Soekarno

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelHistorical

Djuari Sang Pejuang Pemikul Tandu Jenderal Soedirman yang Terlupakan: Jejak Setia Sang Pejuang dari Kediri

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 20 Februari 2026 | 12:02 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Djuari, Pejuang Kemerdekaan yang berjuang bersama Jenderal Sudirman dan selalu memikul tandu yang digunakan Soedirman saat bergerilya di hutan untuk melawan penjajah (Sumber: independen sia com)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di balik legenda besar Jenderal Soedirman, Panglima Besar yang memimpin perang gerilya dengan paru-paru tinggal sebelah, tersimpan kisah sunyi seorang lelaki sederhana bernama Djuari. Sosoknya nyaris tak tercatat dalam buku sejarah, namun di pundaknya, pernah terletak beban berat tandu sang jenderal beban yang bukan hanya berupa tubuh seorang pemimpin, tapi juga harapan kemerdekaan sebuah bangsa.

Kini, di usia senjanya, Djuari hidup dalam kesederhanaan di Desa Goliman, Kediri, Jawa Timur. Tubuhnya kurus, rumahnya masih berlantai tanah, namun semangat juangnya tetap menyala. Tak ada tanda kehormatan di dinding rumahnya, tak ada monumen mengenangnya, hanya kenangan yang terus ia simpan dalam hati.

Ia mulai mengikuti Jenderal Soedirman sejak berusia 21 tahun muda, kuat, dan penuh semangat. Bersama tiga sahabatnya, Karso, Wato, dan Joyo, Djuari mendapat tugas yang luar biasa berat: memikul tandu sang Panglima Besar dalam perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1948.

Perjalanan mereka dimulai dari Desa Magarsari Majulan, Kecamatan Majeret, Kabupaten Nganjuk. Jalur yang ditempuh bukan jalan biasa — mereka harus melintasi bukit-bukit terjal, hutan lebat, dan sungai-sungai dingin, sambil menghindari kejaran tentara Belanda. Di bawah sinar bulan dan hujan rimba, mereka terus berjalan.

“Mikul Pak Dirman, saya ingat betul… waktu itu susah, tapi kami senang bisa ikut berjuang,” tutur Djuari lirih, mengenang masa-masa itu dengan mata berkaca-kaca.

Dalam perjalanan itu, rombongan kecil mereka dikawal oleh para perwira tangguh seperti Tjokropranolo, Supardjo Rustam, Suwondo, dan Heru Tjokro. Meski berat, tak ada keluhan dari Djuari. Sebaliknya, ia merasa terhormat dapat menjadi bagian dari perjuangan besar itu.

Bagi Djuari, mengangkat tandu bukan sekadar tugas fisik. Itu adalah simbol pengabdian, tanda bakti kepada negeri dan pemimpinnya. Ia bahkan masih mengingat betapa bahagianya ia dan kawan-kawan ketika Jenderal Soedirman menghadiahkan selendang panjang kepada mereka tanda kasih sayang dan penghargaan dari seorang pemimpin kepada rakyat kecil yang turut menegakkan kemerdekaan.

Baca Juga:   Jenderal A.H. Nasution, Sang Prajurit Idealistis yang Menolak Jadi Presiden Meski Punya Peluang Besar

“Walaupun saya cuma pemikul, saya senang. Semua saya lakukan ikhlas, tanpa imbalan apa pun,” katanya dengan senyum yang sederhana, namun penuh makna.

Kini, di usia lanjut, Djuari hanya hidup dari kenangan dan doa. Ia tak menyesal, meski namanya tidak tertulis dalam sejarah resmi. Baginya, bisa memanggul tandu Pak Dirman adalah kehormatan yang lebih besar dari segala penghargaan dunia.

Kisah Djuari mengingatkan kita bahwa di balik kemegahan nama-nama besar kemerdekaan, ada ribuan sosok kecil yang berjuang dalam diam pahlawan tanpa tanda jasa yang memanggul beban bangsa dengan hati yang tulus. Mereka mungkin terlupakan oleh sejarah, tapi tanpa mereka, mungkin sejarah itu takkan pernah ada.***


Sumber : independensia.com.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Megawati Institute: Temuan KPF adalah Alarm Demokrasi. Pemerintah Perlu Segera Melakukan Investigasi Independen dan Terbuka
Jumat, 20 Februari 2026 | 13:15 WIB
Demokrasi yang Merawat
Jumat, 20 Februari 2026 | 12:37 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur: Kawasan Industri Pulogadung Diduga Jadi Penyumbang Polusi Udara di DKI Jakarta
Kamis, 19 Februari 2026 | 19:24 WIB
Jauh di Mata, Dekat di Hati: Persaudaraan Ho Chi Minh dan Soekarno
Kamis, 19 Februari 2026 | 15:54 WIB
Resolusi GMNI 2026
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:11 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Bahlil Respon Pernyataan Cak Imin, Karyono Wibowo Nilai Bukan Sekadar Balas Dendam Politik

Marhaenit.id, Jakarta — Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan…

Kasat Narkoba Polres Berhasil Gagalkan Penyelundupan 76 Kg Sabu, Ketua DPC GMNI Asahan Berikan Apresiasi

Marhaenist.id, Asahan - Satuan Reserse Narkoba Polres Asahan di bawah kepemimpinan Kasat…

RUU TNI 2024: Adaptasi atau Ancaman bagi Demokrasi?

Marhaenist.id - Perubahan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI 2024 membawa sejumlah perbedaan…

Terpilih dalam Konfercab V, Aji Darmawan-Diman Safaat Resmi Pimpin DPC GMNI Kendari Periode 2025–2027

Marhaenist.id, Kendari - Aji Darmawan dan Diman Safaat resmi terpilih secara sah…

Kasus Bahar Bin Smith Aniaya Banser: Tantangan Bagi Reformasi Polri

Marhaenist.id - Kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan tokoh kontroversial Bahar Bin Smith…

Refleksi Hari Lahir Bapak Proklamator: Pemuda Harus Meneladani Ajaran Bung Karno

Marhaenist.id - Bangsa Indonesia kembali diingatkan oleh sejarah bahwa tanggal 06 Juni…

Mananwir Paul Finsen Mayor dan Dislokasi Geopolitik Nusantara di Papua

Marhaenist.id, Jakarta — Senator Papua sekaligus pemimpin adat, Mananwir Paul Finsen Mayor,…

Proyek Pembangunan Daerah dan Kewenangan Eksekutif Tanpa Persetujuan DPRD

Marhaenist.id - Dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia, hubungan antara kepala daerah…

Hukum sebagai Instrumen Penindasan oleh Rezim Kuasa: Studi Kasus Putusan Pidana Tom Lembong

Marhaenist.id - Beredar info tersiar di media massa, Mantan Menteri Perdagangan 2015–2016,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?