By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Balada Sang Penjilat

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Jumat, 13 September 2024 | 09:59 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
"Saya telah mendengar bahwa mereka yang gemar memuji orang di depan wajahnya juga gemar mencela mereka di belakangnya.” - Zhuangzi. Ilustrasi "Cleopatra" 1963 20th Century Fox
Bagikan

Marhaenist.id – Siapapun pasti tak suka dengan orang yang suka menjilat pada orang yang punya pengaruh atau kedudukan. Terlebih bila orang tersebut berada di lingkaran kehidupan sehari-hari. Begitu pula si penjilat itu sendiri, tak akan suka terhadap temannya yang juga ikut-ikutan menjilat. Kecuali, para penjilat itu punya satu misi atau suatu persamaan, justru yang terjadi saling dukung satu sama lain agar sukses menjilat bersama.

Naasnya, orang yang posisinya lebih tinggi malah lebih menyukai bawahan yang mahir menjilat. Yakni, yang pandai mengolah kata, perilaku, dan mimik muka. Ditambahi gemar memuji atasan. Lalu sering menunjukkan prestasinya di hadapan juragannya. Serta agar posisinya terangkat tak merasa terbebani untuk menginjak-injak harga diri teman di mata bosnya. Semua itu ia lakukan agar majikannya lebih suka padanya daripada anak buah yang lain.

Untuk mendapat perhatian petinggi, si penjilat tak jarang akan memanipulasi data. Tentu data terkait dengan hasil kinerjanya diolah atau diatur sedemikian rupa sehingga seakan-akan itu adalah sebuah prestasi. Padahal itu sangat jauh panggang dari api. Apa yang ia tunjukkan hanya sekadar di atas kertas. Namun, kenyataan di lapangan ia tak memiliki kelebihan yang patut dibanggakan.

Si Dijilat Pantat adalah julukan yang diberikan Mas Marco Kartodikromo terhadap seorang asisten wedana (sekarang setara camat) di daerah yang “ngathok” atau lebih suka menjilat kepala atasannya demi mempertahankan posisi atau kedudukannya, syukur bisa naik pangkat. Istilah Si Dijilat Pantat dimuat dalam artikel majalah Doenia Bergerak No. 2, 4 April 1914.

Perilaku penjilat itu banyak dilakukan oleh golongan priyayi yang bekerja sebagai ambtenaar atau pegawai pemerintah dalam terminologi kekinian disebut aparatur sipil negara (ASN). Eufemisme Si Dijilat Pantat yang diujarkan dalam Bahasa Melayu Pasar tempo dulu itu sekarang dikenal sebagai ABS (Asal Bapak Senang).

Baca Juga:   Orde Baru Tak Pernah Pergi...

Perilaku penjilat banyak dilakukan oleh para pegawai Binnelands Bestuur (BB) yang dipimpin oleh pejabat orang Belanda, mulai dari gubernur jenderal, gubernur, residen, asisten residen, burgermeester (walikota) hingga kontrolir. Perilaku penjilat itu banyak dilakukan oleh bawahan kepada atasan baik yang dilakukan oleh pegawai keturunan Eropa maupun pegawai Bumiputera.

Di bawah kontrolir ada struktur pemerintahan yang diisi oleh pejabat-pejabat Bumiputera mulai dari bupati, wedana, asisten wedana dan para kepala desa dan bawahannya. Pemerintahan yang diselenggarakan oleh kaum Bumiputera disebut Indlandsce Bestuur. Perilaku penjilat para pejabat Bumiputera tu secara satire oleh Multatuli dalam novel Max Havelaar.

Perilaku penjilat para pejabat itu seolah-olah menjadi penyakit genetis yang melanda para pejabat. Setelah lebih dari 110 tahun istilah Si Dijilat Pantat dikemukakan oleh Mas Marco Kartodikromo, ternyata perilaku seperti itu kian menjadi-jadi. Sekelas menteri tidak malu-malu menjadi tukang cebok bahkan tidak sungkan menjilati kotoran di pantat keluarga Mulyono hingga bersih.

Kalau buzzer dan influencer jangan ditanya karena mereka dibayar untuk itu. Setelah 20 Oktober 2024 mungkin mereka sibuk mencari juragan baru untuk dijilati pantatnya. Rimming itu aktivitas seksual yang menjijikan karena harus menjilati lubang pantat, walaupun secara virtual tetap saja perilaku maha jorok, dari sisi apapun!

Oleh : R.B. Soloensis

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Memahami Pesoalan Gugatan Imanuel terhadap Keabsahan GMNI Arjuna dengan Nomor Perkara Hukum: 115/Pdt.G/2025/Jkt Pst

Marhaenist.id - Amar putusan Pengadilan yang mengabulkan petitum Imanuel itu tidak melihat…

Gelar PPAB, GMNI Morowali Lahirkan 13 Generasi Baru Pejuang Marhaenis yang Siap Mengabdi untuk Rakyat

Marhaenist.id, Morowali - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Refleksi Juni, DPK GMNI FISIP UHO Kendari Buka Mimbar Bebas Kenang Perjuangan Sukarno

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Empat Syarat untuk Menegakkan Demokrasi di Indonesia

Marhaenist.id, Jakarta - Terdapat 4 syarat yang harus terpenuhi agar demokrasi bisa…

Sukses Gelar Konfercab, Erik R Sibu – Fridodis Korois Resmi Terpilih sebagai Pimpinan GMNI Halut Periode 2025-2027

Maharenist.id, Halut - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara (Halut) sukses…

Supremasi Hukum: Jangan Jadikan Hukum Positif Indonesia Sebagai Instrumen Politik Praktis

Marhaenist.id - Mengutip dari halaman website resmi Mahkamah Konstitusi Indonesia menjelaskan bahwa…

Dua Ekor Bebek Untuk Kegagalan Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu

MARHAENIST - Massa aksi yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Lebaran di Tengah Cobaan: Menggali Makna Tahan Menderita dari Pesan Bung Karno

Marhaenist.id - Lebaran tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita mungkin…

Kenaikan BBM, GMNI dan Cipayung Plus Seruduk Kantor DPRD dan Walikota Malang

Marhaenist - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Malang,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?