By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Riau Tegaskan Polri di Bawah Presiden Merupakan Amanat Konstitusi
Digadang akan Menggantikan Prof. Arief, Ini Deretan Kontroversi Adies Kadir!
Gelar Peluncuran dan Bedah Buku Prof. Arief Hidayat, Tandai 13 Tahun Pengabdian sebagai Hakim Konstitusi
GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan
Pengakuan Bung Karno Soal Pergumulan Batin: Dari ‘Islam Raba-raba’ menjadi ‘Islam yang Yakin’

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

Gelar Diskusi Publik, GMNI Jaksel: Ada Bayang-Bayang Otoritarianisme dalam Wacana Pilkada Tidak Langsung

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 18 Januari 2026 | 20:39 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: GMNI Jaksel dan Para Pemateri dalam Diskusi Publik yang bertakjub Bayang-Bayang Otoritarianisme dalam Wacana Pilkada Tidak Langsung (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan menggelar diskusi publik bertajuk Bayang-Bayang Otoritarianisme dalam Wacana Pilkada Tidak Langsung di Sekretariat DPC GMNI Jakarta Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Diskusi ini digelar sebagai respons kritis atas menguatnya wacana Pilkada tidak langsung yang dinilai berpotensi menggeser kedaulatan rakyat dan melemahkan prinsip demokrasi.

Pakar politik anggaran Yani Sucipto menilai, wacana Pilkada tidak langsung tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan teknis pemilu atau efisiensi anggaran.

Menurutnya, perubahan mekanisme Pilkada justru mencerminkan pergeseran relasi negara dan rakyat dari semangat demokratisasi era Reformasi menuju konsolidasi kekuasaan elite politik.

“Hak politik rakyat direduksi, akuntabilitas dipindahkan dari warga ke partai dan fraksi DPRD, sementara politik uang tidak hilang, hanya berpindah ke ruang tertutup elite,” ujar Yani.

Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi memperkuat oligarki dan melemahkan legitimasi demokrasi.

Sementara itu, penulis dan peneliti hukum tata negara Herman menyebut wacana Pilkada tidak langsung sebagai cerminan krisis kerepublikan.

Ia menilai elite politik mulai melupakan prinsip dasar bahwa negara dibangun atas kedaulatan rakyat.

Herman juga menegaskan, persoalan demokratis dalam Pasal 18 UUD 1945 bersifat substantif dan tidak dapat dipersempit hanya sebagai urusan teknis pemerintahan daerah.

Ia juga merujuk pada sejumlah putusan Mahkamah Konstitusi yang secara konsisten menegaskan Pilkada sebagai bagian dari rezim pemilu, sejalan dengan Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 yang mengatur pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

“Pilkada adalah instrumen konstitusional kedaulatan rakyat, bukan sekadar mekanisme administratif,” katanya.

Pengamat politik Ray Rangkuti menilai wacana Pilkada tidak langsung bertentangan dengan amanat konstitusi sekaligus mempersempit ruang politik warga negara.

Baca Juga:   Hari Ke 8 Kawal Aksi Masyarakat Talaga Raya atas PT AMI, GMNI Baubau Minta Agar Perundingan Bisa Melahirkan Solusi

Menurutnya, prinsip negara demokrasi menjamin hak setiap warga untuk memilih dan dipilih, sementara Pilkada melalui DPRD justru mengalihkan kedaulatan rakyat ke tangan elite partai politik.

“Skema ini berpotensi merusak masa depan demokrasi,” ujar Ray.

Ia juga menambahkan, pembangunan bangsa tidak hanya menyangkut aspek fisik melalui kebijakan ekonomi, tetapi juga pembangunan jiwa dan rohani rakyat yang hanya dapat diwujudkan melalui demokrasi yang hidup dan partisipatif.

Dari kalangan mahasiswa, perwakilan GMNI Jakarta Selatan, Darnel, menegaskan bahwa mahasiswa dan gerakan sosial harus merespons wacana Pilkada tidak langsung dengan sikap tegas dan terorganisir.

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi mempersempit ruang demokrasi dan memusatkan kembali kedaulatan rakyat ke tangan elite politik.

“GMNI Jakarta Selatan perlu menyatakan sikap politik yang jelas dengan menolak wacana Pilkada tidak langsung, sekaligus merumuskan langkah perjuangan konkret sebagai bagian dari tanggung jawab historis gerakan mahasiswa,” ujarnya.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Riau Tegaskan Polri di Bawah Presiden Merupakan Amanat Konstitusi
Selasa, 27 Januari 2026 | 22:05 WIB
Digadang akan Menggantikan Prof. Arief, Ini Deretan Kontroversi Adies Kadir!
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:55 WIB
Gelar Peluncuran dan Bedah Buku Prof. Arief Hidayat, Tandai 13 Tahun Pengabdian sebagai Hakim Konstitusi
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:31 WIB
GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:07 WIB
Pengakuan Bung Karno Soal Pergumulan Batin: Dari ‘Islam Raba-raba’ menjadi ‘Islam yang Yakin’
Selasa, 27 Januari 2026 | 19:11 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

PA GMNI Touna Tantang Kepala-Kepala Dinas yang Baru di Lantik Prioritaskan Kepentingan Kaum Marhaen

Marhaenist.id, Touna - Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) memasuki babak baru dengan adanya…

Gelar Aksi Peringati Hari Sumpah Pemuda, DPK GMNI FISIP UHO Ajak Pemuda Teguhkan Nilai Kebangsaan dalam Sumpah Pemuda 1928

Marhaenist.id, Kendari -  Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Dewan Pimpinan…

Pembukaan Konferda V PA GMNI Jakarta Raya Dijadwalkan Sabtu (13/12/2025), Inilah Ketentuan Panitia Bagi Peserta yang akan Hadir

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Diduga Tak Terima Ditanyakan Soal Komitmen Persatuan, Imanuel Cahyadi Bawah Lari Palu Sidang Saat Kongres hingga Berakhir Ricuh

Marhaenist.id, Bandung — Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ke XXII versi…

GMNI Kecam Keras Intervensi Militer AS ke Venezuela: Dunia Bukan Milik Satu Negara

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Historical: Pidato Bung Karno Saat Hari Natal

Marhaenist.id - Di suatu malam Natal pada 1963 di podium gereja Jakarta,…

Menjelang Pilgub, Ketua DPD GMNI Jatim: Rakyat Perlu Diberi Pilihan

Marhaenist.id, Surabaya - Menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur yang akan digelar pada…

Mengawal Pemilihan Kepala Daerah Dengan Keterbukaan Informasi Publik

  Marhaenist.id - Hak untuk memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dalam…

DPC PA GMNI Bengkalis Ucapkan Selamat atas Terselenggaranya Konfercab Ke- I GMNI Bengkalis

Marhaenist.id, Bengkalis - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?