By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

OMERTA, ADDIOPIZZO: Dari Sisilia ke Lorong-Lorong Gelap Merdeka Merdeka

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 31 Desember 2025 | 14:36 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi (Artificial Intelligence)/MARHAENIST.
Bagikan
Marhaenist.id – Istilah “Omerta” tidak lahir dari ruang sidang yang bersih; ia lahir dari tanah gersang Sisilia abad ke-19. Secara etimologis, ia berakar dari kata umiltà (kerendahan hati), namun secara empiris, ia adalah Sumpah Darah. Bagi Mafia Cosa Nostra, Omerta adalah kewajiban mutlak untuk bungkam di hadapan otoritas, sebuah keyakinan bahwa mencari keadilan melalui negara adalah bentuk penghinaan terhadap kehormatan kelompok.

Namun, mari kita tarik garis lurus dari Palermo ke Jakarta.

Di sini, Omerta telah diadopsi dengan cara yang lebih licin dan mematikan, bersembunyi di balik pilar-pilar kokoh di sekitar Gambir, Harmoni, Medan Merdeka, dan Menteng.

Menteng: Labirin Kesepakatan di Balik Pintu Jati

Jika di Sisilia Omerta adalah tentang melindungi keluarga dari polisi, di kawasan Menteng, ia adalah tentang melindungi “kolega” dari jerat hukum. Di rumah-rumah kolonial yang megah itu, kebijakan publik seringkali tidak dirumuskan di meja rapat, melainkan di balik pintu jati yang kedap suara.
Praktik empiris Omerta di sini terlihat saat skandal korupsi besar pecah. Kita melihat para elit saling mengunci mulut bukan karena loyalitas, melainkan karena saling sandera (mutual destruction).

Jika satu berbicara, seluruh struktur di Menteng akan runtuh. Itulah mengapa, seringkali penyelidikan hanya berhenti pada level “kurir” atau “operator”, sementara dalang di balik tembok Menteng tetap tak tersentuh oleh narasi hukum.

“Medan Merdeka dan Gambir:

Arsitektur Keheningan Birokrasi
Bergeser ke Medan Merdeka dan Gambir, pusat dari segala pusat kekuasaan. Di sini, Omerta termanifestasi dalam bentuk hirarki birokrasi yang kaku. Di lorong-lorong kementerian dan lembaga tinggi negara, kebenaran seringkali dikubur hidup-hidup atas nama “perintah atasan”.
Whistleblowing di kawasan ini dianggap sebagai bunuh diri karier.

Baca Juga:   Pulau Buru dan Pengarahan Tenaga Kerja Tapol

Secara empiris, kita menyaksikan bagaimana data-data krusial tiba-tiba “hilang” atau saksi-saksi kunci mengalami amnesia mendadak saat berdiri di pengadilan. Ini adalah Omerta versi kerah putih: sebuah keheningan yang dibeli dengan jabatan dan diamankan dengan ancaman mutasi.

Harmoni: Di Mana Hukum Menjadi Barang Dagangan

Di kawasan Harmoni, di mana gedung-gedung pengadilan dan kantor hukum berdiri, Omerta berubah wajah menjadi transaksi. Keheningan di sini memiliki label harga. Para makelar kasus bekerja di sela-sela lorong gelap untuk memastikan bahwa kesaksian yang memberatkan tidak pernah sampai ke telinga hakim.

Secara historis, Mafia menggunakan kekerasan fisik untuk menjaga Omerta. Di Jakarta, kekerasan itu digantikan oleh kekerasan sistemik: kriminalisasi balik, fitnah digital, hingga pemingguran ekonomi. Pesannya tetap sama dengan Mafia Sisilia: “Siapa yang bicara, dia yang binasa.”

Merobek Segel Keheningan

Omerta di Indonesia bukan lagi sekadar subkultur kriminal, melainkan metode pertahanan bagi para predator kekuasaan di jantung ibu kota. Dari Menteng hingga Gambir, konspirasi bisu ini telah merampas hak rakyat atas kebenaran.

Sejarah mencatat bahwa kejayaan Mafia mulai runtuh ketika rakyat Sisilia mulai berani berteriak “Addiopizzo!” (selamat tinggal uang perlindungan). Indonesia pun demikian. Selama kita masih memuja loyalitas buta kepada korps atau atasan di atas konstitusi, maka lorong-lorong gelap di Medan Merdeka akan tetap menjadi kuburan bagi keadilan.***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Mantan Wartawan, Aktivis Alumni  GMNI, Advokat.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ketua DPK GMNI Teknik UHO Soroti Kondisi Pelabuhan Waode Buri Buton Utara, Desak Pemerintah Segera Lakukan Perbaikan

Marhaenist.id, Buton Utara — Ketua Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional…

Gelar Musyakom, GMNI Unidha Teguhkan Marhaenisme di Tengah Krisis Bangsa sebagai Panggung Regenerasi dan Konsolidasi Ideologis

Marhaenist.id, Malang – Dewan Pengurus Komisariat (DPK) GMNI Universitas Wisnuwardhana Malang (Unidha)…

Marhaenis Muda Harus Mengawal Demokrasi dari Desa

Marhaenist.id - Demokrasi Indonesia tidak bisa hanya dipahami dari dinamika politik nasional…

Hipotetis: Relevansi Gerak Marhaenis tehadap Marhaenisme dalam Melawan Tantangan Zaman Diera Kekinian

*Kritik Marhaenis Junior terhadap Prilaku Marhaenis Senior yang ada di GMNI Diera…

Warga Demak Korban Banjir Sukacita Ditengok Ganjar

Marhaenist.id, Demak - Duka mendalam akibat bencana banjir terlihat di wajah para…

DPC PA GMNI Touna Apresiasi Kunjungan Bubati ke Mahasiswa Touna di Gorontalo

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Sambut Pemimpin Baru, GMNI PPU Lakukan Evaluasi sebagai Kado Disektor Krusial

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Dalam rangka menyambutnya Bupati dan Wakil Bupati,…

Ahmad Basarah Resmi Ditunjuk Jadi Jubir PDIP, Inilah Tugasnya!

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan…

Selama Ego Masih Menggebu, Bicara Persatuan di Tubuh GMNI Hanyalah Omong Kosong – Refleksi Perjalanan GMNI

Marhaenist.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) adalah fusi peleburan tiga organisasi…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?