By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pertumbuhan Ekonomi Yang Menyisakan Luka Sosial dan Ekologis

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Sabtu, 11 Oktober 2025 | 08:38 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Para pekerja kantoran berjalan pulang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. FILE/IST. Photo
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah hiruk-pikuk angka pertumbuhan ekonomi, Indonesia kembali dihadapkan pada paradoks lama: ekonomi tumbuh di atas luka sosial dan kerusakan alam. Pemerintah pusat bangga dengan stabilitas makro, namun di baliknya, hutan menyusut, udara kotor, dan desa-desa kehilangan sumber air bersih akibat ekspansi tambang dan perkebunan besar. Bagi mazhab sosialis, pertumbuhan semacam ini bukanlah kemajuan, melainkan gejala penyakit struktural.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa serapan anggaran di tingkat pusat dan daerah masih rendah, rata-rata hanya sekitar 60 persen. Artinya, bukan uang yang kurang, melainkan program yang tidak berpihak kepada rakyat. Anggaran besar mengendap di rekening negara, sementara petani, nelayan, dan pekerja kecil terus bergulat dengan harga yang tak menentu dan akses publik yang minim. Birokrasi kita, seperti kata rakyat dengan getir, “ombes, kerja sedikit, gaji milyaran.”

Foto: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM/MARHAENIST.

Dalam pandangan sosialis, ini menunjukkan adanya kelas birokrasi dan elite ekonomi yang telah menjauh dari fungsi sosial negara. Mereka menikmati hasil struktur kapitalistik tanpa benar-benar memproduksi nilai untuk masyarakat. Negara yang seharusnya menjadi alat rakyat berubah menjadi pelayan kepentingan modal dan kenyamanan birokrat.

Mazhab sosialis menolak pandangan sempit bahwa ekonomi hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB. Pertumbuhan yang menghancurkan lingkungan, menyingkirkan petani, dan memperkaya segelintir orang tidak bisa disebut kemajuan. Sebaliknya, ekonomi harus dinilai dari sejauh mana ia mampu menciptakan keadilan sosial dan ekologis: kesejahteraan yang merata, kerja yang manusiawi, dan harmoni dengan alam.

Kerusakan alam yang kini merajalela, dari krisis air hingga kebakaran hutan adalah bukti bahwa pertumbuhan yang berorientasi laba telah kehilangan arah moralnya. Alam dieksploitasi habis-habisan demi statistik ekonomi, sementara rakyat yang bergantung pada tanah dan air justru menanggung akibatnya. Sosialisme mengingatkan bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan produksi kehidupan, bukan objek eksploitasi.

Baca Juga:   Presiden Prabowo, Kunci Pemersatu Bangsa untuk Kebangkitan Ekonomi Indonesia

Karena itu, solusi sejati bukan sekadar menaikkan anggaran atau mengganti menteri, tetapi mengubah orientasi pembangunan: dari profit ke kebutuhan rakyat, dari pertumbuhan ke keberlanjutan. Rakyat harus dilibatkan dalam perencanaan dan pengawasan anggaran, sementara negara harus menegakkan fungsi sosialnya, menjamin pendidikan, pangan dan lingkungan yang layak untuk semua.

Pertumbuhan sejati bukanlah ketika angka naik, tetapi ketika manusia dan alam sama-sama tumbuh dalam keadilan.


Penulis: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Sektor Pertanian Butuh Dukungan Anggaran dan Kebijakan Konkrit

Marhaenist - Sektor pertanian yang menjadi tempat bagi mayoritas rakyat Indonesia menggantungkan…

Gugur Sebagai Pejuang Demokrasi, DPC GMNI Kendari Kecam Tindakan Represif Kepolisian Kawan Ojol

Marhaenist.id, Kendari – Tragedi kembali mencoreng wajah demokrasi Indonesia. Seorang kawan Ojol yang…

DPC GMNI Kendari Tantang Polda Sultra Usut Tuntas Dugaan BBM Oplosan

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Demokrasi Ditangan Jokowi: Tantangan Etika Politik dan Moralitas

Marhaenist.id - Dinamika politik Indonesia kembali memunculkan sorotan dengan berkembangnya situasi seputar…

Menumbuhkan Nilai-nilai Pancasila di Era Digitalisasi

Marhaenist.id - Untuk mendasarkan kehidupan kita pada Pancasila, tak cukup dengan sekedar…

Bangkitkan Nasionalisme dan Patriotisme di Kalangan Pelajar, GSNI Sidoarjo Resmi Dikukuhkan

Marhaenist.id, Sidoarjo – Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Kabupaten Sidoarjo resmi dikukuhkan…

Presiden Joko Widodo menyampaikan sedikitnya lima arahan kepada jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), mulai dari para pejabat utama Mabes Polri, kepala kepolisian daerah (kapolda), hingga kepala kepolisian resor (kapolres) seluruh Tanah Air di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 14 Oktober 2022. BPMI/Lukas

Jokowi Kritik Hidup Mewah Para Anggota Polri

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para anggota Polri agar tidak…

Pentingnya Keterwakilan Unsur Mahasiswa Didalam Satgas PPKS Unpam

 Marhaenist.id - Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) menurut…

Pati Efek dan Demokrasi Kekuasaan Negara

Marhaenist.id - Siapaka sangka hari ini kita telah melihat secara langsung maupun…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?