By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Benarkah Soekarno Komunis?
Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Transisi Global Pasca Keluarnya AS Dari WHO
Herwyn J. H. Malonda Resmi Menjabat sebagai Anggota DKPP RI Ex Officio Bawaslu RI
DPD GMNI DKI Jakarta Bakal Gelar Konferda I Tahun 2026, Dorong Transformasi Menuju Jakarta Kota Global
Proyek Pembangunan Daerah dan Kewenangan Eksekutif Tanpa Persetujuan DPRD

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelInsight

Resensi Buku: The Shallows What the Internet Is Doing to Our Brains – Nicolas Carr

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 16 September 2025 | 21:32 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Daniel Russell, Alumni GMNI Bandung (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Dalam tradisi membaca linear melalui buku fisik, individu memproses pengetahuan secara mandiri, mengolah informasi dengan cara berpikir yang reflektif dan mendalam. Pola epistemik ini bersifat privatif, di mana pengetahuan dibangun melalui interaksi internal antara kedalaman pikiran dan pengalaman, memungkinkan individu memahami dunia secara utuh dan kritis.

Namun, dalam ekosistem digital berbasis algoritma, cara kerja epistemik berubah menjadi lebih kolektif, dengan informasi yang disebarkan secara masif melalui rangsangan visual, bahasa yang disederhanakan, dan daya tarik sensorik, seperti musik. Interaksi sosial, algoritma, dan logika distribusi informasi memengaruhi persepsi dan pemahaman, sehingga pengetahuan tidak lagi diolah secara eksklusif oleh individu, melainkan sebagai bagian dari jaringan sosial dan digital yang lebih luas.

Sejarah perkembangan teknologi media menunjukkan perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi dengan informasi. Pada era Gutenberg (abad ke-15 hingga ke-19), mesin cetak melahirkan budaya literasi linear yang mendorong berpikir analitis, membentuk rasionalitas, sains modern, humanisme, dan nasionalisme. Era media listrik, seperti telegraf, radio, telepon, dan televisi, menghadirkan komunikasi simultan dengan audio-visual, mengikis batasan jarak dan waktu, dan menciptakan bentuk kolektivitas baru, atau “Global Village”. Sementara itu, era digital dan algoritmik, yang dimulai akhir abad ke-20 hingga kini, menawarkan akses informasi real-time, berbasis data, non-linear, dan konten yang dipersonalisasi. Era ini menimbulkan ekonomi atensi, bubble informasi, dan risiko krisis eksistensial serta identitas akibat fragmentasi pengetahuan. Pergeseran medium ini bukan sekadar alat; ia membawa efek mendalam terhadap struktur sosial, perilaku, dan persepsi manusia. Medium, baik televisi, film, maupun media sosial, seringkali lebih memengaruhi cara berpikir dan merasakan daripada isi pesan itu sendiri, bekerja melalui rangsangan visual dan emosional yang membentuk pola pikir pengguna tanpa banyak resistensi.

Baca Juga:   Bung Karno: Roh dan Semangat Muda adalah Dasar Mencapai Tujuan

Internet mengubah penyebaran informasi dari bentuk yang tersebar menjadi terkonsentrasi. Memori digital memungkinkan penyimpanan data yang cepat, akurat, dan tahan lama, sehingga kapasitas mental manusia untuk fokus jangka panjang dan refleksi mendalam perlahan terkikis. Fenomena chronic scatter-brain muncul akibat banjir informasi, fragmentasi atensi, dan dorongan untuk mendapatkan kepuasan instan melalui notifikasi dan konten singkat. Desain web yang menekankan navigasi cepat mendorong pola skimming dan scrolling, menggantikan deep reading. Interaksi digital kini cenderung bergeser dari pemahaman kontemplatif ke pembacaan permukaan (surface reading), yang cepat, dangkal, dan terfragmentasi. Meskipun internet mempercepat pencarian informasi, transformasi epistemik ini menyederhanakan pengetahuan, memotong konteks, dan mengurangi kedalaman pemahaman.

Kecenderungan ini juga berdampak pada otak manusia. Konsep neuroplastisitas menunjukkan bahwa otak bersifat lentur, mampu membentuk dan menguatkan koneksi saraf melalui pengalaman dan kebiasaan mental. Prinsip “cells that fire together, wire together” menegaskan bahwa jalur saraf yang sering digunakan berkembang, sementara yang jarang dipakai melemah. Aktivitas digital yang repetitif memodifikasi jalur saraf, sehingga kebiasaan dan pengalaman mental membentuk cara berpikir dan kemampuan kognitif manusia. Otak dapat menyesuaikan pola pikir melalui fleksibilitas mental (mental flexibility) dan kelincahan intelektual (intellectual litheness), namun jika diarahkan oleh medium digital yang intens dan terfragmentasi, potensi ini bisa beralih menjadi kebiasaan multitasking yang mengikis kedalaman pemahaman dan refleksi.

Pengetahuan dan imajinasi saling terkait. Pengetahuan konkret lahir dari subjektivitas yang terartikulasikan melalui presisi ilmiah, sementara medium bukan sekadar perantara informasi, tetapi juga membentuk bagaimana pengetahuan dan proses berpikir diartikulasikan.

Transformasi pengalaman menjadi abstraksi memungkinkan manusia memahami realitas melalui reduksi dan analogi. Namun, medium dan teknologi memiliki pengaruh imanen: mereka meningkatkan kapasitas fisik, sensorik, dan intelektual, sekaligus membentuk pola pikir subjek dan menentukan tindakannya. Teknologi tidak hanya mendukung komunikasi atau kognisi, tetapi juga membentuk ulang epistemologi

Baca Juga:   Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI

pemahaman mendalam, terpinggirkan. Fenomena ini selaras dengan analisis Marx mengenai alienasi dalam sistem produksi.
Medium buku, sebagai alat literasi, memungkinkan fokus, refleksi, dan deep reading, melatih perhatian dan pemahaman kausal, serta membangun jaringan epistemik yang koheren.

Sebaliknya, medium digital menuntut kecepatan, fragmentasi, dan stimulasi sensorik intens, menghasilkan perubahan neuroplastik yang cepat, tetapi mengikis kedalaman intelektual. Hubungan antara medium, teknologi, dan budaya menentukan pola masyarakat, membentuk perilaku, cara berpikir, dan struktur epistemik yang mendasar.

Secara keseluruhan, The Shallows menekankan bahwa revolusi digital bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi perubahan epistemologis dan metafisik. Manusia tidak hanya dibantu oleh mesin, tetapi perlahan menyerahkan otonomi kognitifnya pada alat eksternal, membentuk ketergantungan struktural pada teknologi, dan mengalami transformasi cara berpikir, belajar, dan memahami dunia. Literasi mendalam, refleksi kritis, dan pengalaman epistemik privatif semakin tergerus, sementara kolektivitas algoritmik dan efisiensi informasi menguasai ruang kognitif manusia, menggeser kecerdasan dari praktik langsung ke representasi simbolik, dari refleksi mendalam ke konsumsi instan.***


Diresensi oleh : Daniel Russell, Alumni GMNI Bandung.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Benarkah Soekarno Komunis?
Jumat, 23 Januari 2026 | 01:44 WIB
Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Transisi Global Pasca Keluarnya AS Dari WHO
Kamis, 22 Januari 2026 | 19:43 WIB
Herwyn J. H. Malonda Resmi Menjabat sebagai Anggota DKPP RI Ex Officio Bawaslu RI
Kamis, 22 Januari 2026 | 16:35 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Bakal Gelar Konferda I Tahun 2026, Dorong Transformasi Menuju Jakarta Kota Global
Kamis, 22 Januari 2026 | 14:52 WIB
Proyek Pembangunan Daerah dan Kewenangan Eksekutif Tanpa Persetujuan DPRD
Kamis, 22 Januari 2026 | 10:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Revolusi Energi: Bongkar Mafia BBM, Tindak Tegas Pengkhianat Rakyat!

Marhaenist.id -Ditengah penderitaan rakyat akibat melonjaknya biaya hidup, mafia energi terus menghisap…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Humas Jateng Prov

Untuk Bangsa, Ganjar Pranowo Siap Maju Nyapres!

Marhaenist - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo memiliki modal yang besar…

Tanggapi Issu Kongres Versi Imanuel, Eksponen GMNI: Jangan Terprovokasi Jika tidak Menyatukan

Marhaenist.id, Jakarta – Polemik internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kembali memanas.…

GMNI Sampaikan Seruan Matinya Demokrasi di Makam Bung Karno Blitar

Marhaenist.id, Blitar - Solidaritas Pejuang-Pemikir Pemikir-Pejuang membuat Seruan Kebanggsaan Indonesia Berkabung; Matinya…

Penjarahan & Anarkisme: Berdasarkan Narasi Rakyat vs Narasi Negara

Marharnist.id - (Pengantar) Kekerasan massa (termasuk penjarahan oleh segelintir orang) kerap muncul…

Wujudkan Generasi Emas 2045, DPD GMNI Sulbar Gelar Konferda Ke-II

Marhaenist.id, Mamasa - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Biografi Singkat Bung Karno

Marhaenist.id - Para Marhaenis pasti sudah tidak asing lagi dengan Ir. Soekarno…

Sukses Gelar Konfercab, Erik R Sibu – Fridodis Korois Resmi Terpilih sebagai Pimpinan GMNI Halut Periode 2025-2027

Maharenist.id, Halut - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara (Halut) sukses…

Sikapi Unras Kawal Putusan MK Atas UU PKPU Diberbagai Daerah, Komnas HAM Desak Aparat Tidak Gunakan Kekerasan

Marhaenist.id, Jakarta- Komnas HAM mencermati bahwa gelombang aksi Unjuk Rasa (Unras) yang terjadi…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?