By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Kampus sebagai Arena Produksi Kesadaran: Riset, Marhaenisme, dan Perlawanan terhadap Kapitalisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 27 Maret 2026 | 13:37 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Adi Maliano, Kader GMNI Sultra/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Kampus tidak pernah netral. Ia merupakan bagian integral dari struktur sosial yang dalam analisis Karl Marx dipahami melalui relasi mode of production cara suatu masyarakat mengorganisir produksi dan distribusi kekayaan. Dalam sistem kapitalisme, kampus berfungsi sebagai instrumen suprastruktur yang tidak hanya mereproduksi tenaga kerja, tetapi juga mereproduksi kesadaran yang sesuai dengan kepentingan kelas dominan.

Ilmu pengetahuan, dalam kerangka ini, tidak bebas nilai. Ia kerap menjadi alat legitimasi bagi praktik eksploitasi yang berakar pada ekstraksi *surplus value* nilai lebih yang diambil dari kerja kaum buruh dan rakyat kecil oleh pemilik modal. Kampus, melalui riset dan produksinya, sering kali berperan dalam memperhalus dan merasionalisasi proses ini, menjadikannya tampak ilmiah, objektif, dan tak terelakkan.

Dalam konteks Indonesia, situasi ini menemukan relevansinya dalam realitas kaum marhaen sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Soekarno untuk menggambarkan rakyat kecil yang memiliki alat produksi terbatas namun tetap tereksploitasi dalam sistem kapitalisme. Marhaenisme, dengan demikian, bukan sekadar ideologi nasionalisme, tetapi juga sebuah kerangka analisis yang memiliki irisan kuat dengan kritik Marxian terhadap kapitalisme.

Namun, di bawah hegemoni kapital, kampus mengalami proses komodifikasi yang semakin dalam. Pendidikan tinggi tidak lagi dipandang sebagai hak, melainkan sebagai komoditas. Riset tidak lagi diarahkan untuk pembebasan, tetapi untuk kepentingan industri dan akumulasi kapital. Dalam situasi ini, mahasiswa dan akademisi mengalami apa yang disebut Marx sebagai *alienasi* terasing dari makna sejati dari kerja intelektual mereka, yang seharusnya berorientasi pada kemanusiaan dan pembebasan.

Alienasi ini tampak dalam berbagai bentuk riset yang tidak menyentuh realitas rakyat, pengetahuan yang terpisah dari praksis, serta akademisi yang terjebak dalam logika karier dan birokrasi. Ilmu pengetahuan kehilangan daya emansipatorisnya dan berubah menjadi instrumen teknokratis yang dingin.

Baca Juga:   Orasi Hannah Arendt, Jean Jasques Rousseau, Pierre Bourdieu dan St. Agustinus Dalam Memahami Tuhan

Lebih jauh, dominasi kapital dalam kampus juga menciptakan apa yang oleh Antonio Gramsci disebut sebagai hegemoni sebuah bentuk kekuasaan yang bekerja melalui konsensus, di mana nilai-nilai kapitalisme diterima sebagai sesuatu yang wajar. Dalam konteks ini, riset yang berpihak pada rakyat sering kali dipinggirkan, sementara riset yang mendukung kepentingan pasar justru didorong dan difasilitasi.

Maka, menjadikan kampus sebagai laboratorium Marhaenisme adalah sebuah proyek ideologis sekaligus praksis. Ia menuntut keberanian untuk membongkar relasi produksi yang timpang dan mengembalikan fungsi ilmu pengetahuan sebagai alat perjuangan. Riset harus diposisikan sebagai instrumen untuk mengungkap eksploitasi, memperkuat kesadaran kelas, dan mendorong transformasi sosial.

Dalam kerangka ini, mahasiswa dan akademisi harus bertransformasi menjadi intelektual organik yang tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga terlibat dalam perjuangan rakyat. Mereka harus keluar dari ruang-ruang akademik yang steril dan masuk ke dalam realitas sosial, menjadikan riset sebagai bagian dari gerakan.

Riset partisipatif, advokasi berbasis data, serta keterlibatan langsung dalam konflik sosial seperti konflik agraria dan eksploitasi sumber daya alam merupakan bentuk konkret dari praksis Marhaenis yang beririsan dengan tradisi pemikiran kiri. Ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan alat untuk mengubah realitas.

Namun, perjuangan ini tidak mudah. Kampus sebagai institusi telah lama terintegrasi dalam sistem kapitalisme global. Oleh karena itu, upaya untuk menjadikannya sebagai ruang emansipasi akan selalu berhadapan dengan resistensi struktural. Ini bukan sekadar perjuangan akademik, tetapi perjuangan politik perjuangan untuk merebut kembali ruang produksi pengetahuan dari dominasi kapital.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah apakah kampus akan terus menjadi alat reproduksi kapitalisme, atau bertransformasi menjadi basis perlawanan bagi kaum marhaen?

Baca Juga:   Perubahan Aturan dan Konsolidasi Kekuasaan di Era Pemerintahan Jokowi: Sebuah Analisis Hukum dan Politik

Dalam tradisi Marxian, tugas intelektual bukan hanya menafsirkan dunia, tetapi mengubahnya. Kampus harus mengambil posisi dalam pertarungan ini karena dalam sistem yang timpang, tidak ada netralitas yang benar-benar netral.***


Penulis: Adi Maliano, Pendiri Komisariat GMNI Universitas Sulawesi Tenggara (2017), Presiden Mahasiswa Unsultra (2019–2021), Koordinator Isu Internasional BEMNUS Pusat, dan saat ini menjabat sebagai Ketua DPP GMNI Bidang ESDM.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Selasa, 21 April 2026 | 22:17 WIB
Ilustrasi Gambar tentang "Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan" karya Noufal Hanif (Desain AI)/MARHAENIST.
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Selasa, 21 April 2026 | 20:10 WIB
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Selasa, 21 April 2026 | 10:25 WIB
Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Sukses Gelar Konfercab, Erik R Sibu – Fridodis Korois Resmi Terpilih sebagai Pimpinan GMNI Halut Periode 2025-2027

Maharenist.id, Halut - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara (Halut) sukses…

Ekponen Alumni GMNI Kawal Ganjar Pranowo Ikuti Kontestasi Pilpres 2024

Marhaenist.id, Jakarta - Massa dari eskponen alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan…

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristianto. Dok. PDIP

PDIP Balas Tudingan SBY Soal Akan Adanya Kecurangan Pemilu 2024

Marhaenist - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menyebut gelaran Pemilu…

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto. FILE/PDI Perjuangan

Soal Siap Jadi Capres, Hasto: Ganjar Pranowo Tidak Melanggar Disiplin Partai

Marhaenist - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menegaskan Ganjar…

Salah Satu Pengurus PA GMNI Sulteng Resmi Luncurkan Buku dengan judul “Konstruksi Sosial dan Konflik: Studi Tentang Pendidikan dan Politik”

Marhaenist.id, Sulteng - Sebuah karya ilmiah baru berjudul “Konstruksi Sosial dan Konflik:…

GMNI Halut Sukses Gelar PPAB Jilid I, Bangun Kesadaran Ideologis dan Pondasi Kaderisasi

Marhaenist.id, Halut - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Visi Misi Airin – Ade Sumardi Membawa Gagasan Generasi Muda Banten

Marhaenist.id- Banten, Sekretaris Brigade Sabara Banten, Miftahul Ulum kembali menegaskan komitmen Brigade…

GMNI: KTT ASEAN Harus Menjiwai Doktrin Soekarno-Macapagal

Marhaenist - Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi pada Rabu pagi, 10…

Sevisi Dengan Kader PDIP Yogyakarta, Arya Siap Dipasangkan Jadi Wakil Walikota

Marhaenist, Yogyakarta - Ariyanto menyatakan dirinya siap menjadi calon wakil walikota untuk…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?